doodling,  Foto dan Cerita,  Momentum,  Pendidikan

My Parents are Everlasting Love

Bu, mengingatmu menjadi puzzle waktu, betapa engkau memiliki banyak peran mengisi hariku. 

Engkau adalah sahabat yang selalu siap mendengarkan sejuta keluhanku sepulang sekolah, kuliah, kerja, dan hingga kini tetap sedia menampung segala keluh kesah. 

Engkau adalah koki pribadi yang kerapkali bingung menyiapkan terbaik untuk esok hari. Senantiasa berjibaku sejak pagi buta dengan kompor, wajan, dan ragam bumbu.

Engkau adalah desainer sekaligus penjahit istimewaku. Berbagai baju mulai seragam, daster, gaun, baju kuliah, hingga yang robek sekalipun begitu sigap engkau perbaiki. Kain-kain sisa engkau manfaatkan menjadi sesuatu yang baru. 

Engkau adalah pembelanja cermat bagi semua kebutuhanku. Mulai dari perlengkapan bayi sejak dulu hingga perkakas rumah tangga. Semua engkau rawat dengan baik. Bahkan ember bak bayi, mantel, dan selimut saat aku bayi masih bisa dipakai hingga usiaku kini 25 tahun. 

Engkau adalah dokter sekaligus perawatku. Mengobati saat terluka. Menemaniku dengan sabar saat harus bermalam di rumah sakit. 

Engkau, fotografer terbaikku. Semua momen bahagia di masa lalu, engkau bingkai dengan rapi dalam album kenangan. Jejak berharga masa silam bisa kusaksikan di sana. 

Engkau, konsultan terbaik yang memberiku solusi yang atas persoalan yang kuhadapi. Engkau adalah guru pertamaku. 

Bapak adalah seorang lelaki di ujung senja yang saban pagi menyibukkan diri mengulik sesuatu yang menjadi hobinya. Hobi yang terus berganti. Senang membuat akuarium, kursi dari bambu, speaker dari ember bekas, membuat rak buku dan meja belajar dengan tangannya.

Ingat Bapak berarti ingat lagu kesukaannya yang sering memenuhi ruang dengar terlalu keras. Menimbulkan gerutuan orang rumah. Pop sunda calung. Bapak sempat bercerita kalau tangisanku saat bayi hanya berhenti saat diperdengarkan lagu “Engklak-engklakan” milik Alm. Darso Aku bergidik tak merasa dan lupa momen itu. Tapi Bapak keukeuh kalau aku baru anteng saat dibawa “ngibing”. 

Bapak, lelaki yang sesekali mengayuh sepeda kesayangannya berkeliling kota. Bapak yang setiap hari tak kenal waktu bekerja. Melayani pembeli bambu yang bahkan menggedor pintu di ujung malam. Ya, bapak seorang penjual bambu yang lahan dagangnya semakin menyempit karena pelebaran jalan. Bapak yang tak segan merogoh saku dalam-dalam untuk menjajani keluarga. Bapak yang sering menjadi “teman bertengkar”ku bila berselisih paham. Bapak yang selalu membentakku saat sulit bangun untuk sholat Shubuh. Bapak yang tak pernah absen dari tahajudnya. 

Bapak dan Ibu, mereka bukan orangtua yang mengenyam pendidikan tinggi. Hanya sampai SMP dan bahkan ibu tak punya ijazah. Mereka hanya tahu mengikuti naluri untuk membahagiakan anak-anaknya. Naluri kuat agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Mereka tak seperti aku yang kalap menghadapi anak yang baru satu. Mereka tak bermodalkan ilmu parenting yang viral di ranah maya. Terkadang pola asuh yang kurasakan begitu keras dan otoriter.

Perfeksionis dari ibu yang sangat teliti mengatur rumah tangga. Tak boleh sedikitpun ada debu dan seprai yang kusut masai. Bapak yang sempat memarahiku saat bermain terlalu lama. Bapak yang pernah membentakku di depan tetangga, hingga wajahku memerah saat itu karena malu. Bapak yang keras dan kadang sulit dimengerti. 

Jika dibandingkan dengan ilmu parenting yang aku pelajari saat ini, pola asuh orangtua memang jauh dari pola ideal. Tapi, Qadarullah, memang seharusnya aku belajar menempatkan diri. Menghargai segala jerih payah mereka dengan caranya sendiri. Tak ada standar manusia yang ideal sebenarnya. Tinggal bagaimana menyesuaikan dengan tantangan zaman. Terima kasih Ibu Bapak. Kalian adalah cinta pertamaku yang menembus dimensi ruang dan waktu. Semoga Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya. 

#ODOPfor99days

Amazing with Visual Creations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *