Catatan Diri,  Literasi,  Pendidikan,  potret buram,  Refleksi,  Semesta,  Sosial Media

Mengukur Kadar Literasi Kita

Literasi digaung-gaungkan pemerintah belakangan ini. Berbagai program disiapkan untuk menggawangi literasi dengan berbagai bentuk. Melalui bedah buku, perpustakaan keliling, kompetisi menulis, dan ragam kegiatan lainnya. Meningkatkah kadar literasi kita?

Saya pikir, literasi hanya sebentuk promosi plus snobisme belaka jika hanya sekadar senang-senang dianggap berintelek dalam euforia sambil-lalu. Merasa pintar dengan membaca buku pelajaran sehari sebelum ujian. Merasa cukup informasi dengan sekadar scroll atas scroll bawah menelan semua berita di jagad virtual.

Maka di antara sekian banyak canggihnya buku digital merasuki ponsel pintar justru kadar literasi semakin menurun di titik nadir. Saya rasa saya gagal membuat keluarga saya lebih mencintai tayangan serial dibanding menelaah kisah nabi-nabi. Saya gagal membuat murid saya tak sedikitpun tersentuh dengan klise buku adalah gudang ilmu kecuali segelintir mereka yang tekun. Ya hanya segelintir 1 dibanding 1000. Saya gagal pada alasan diri yang berlindung pada kesibukan dan tak sempat membaca, menyerap makna lalu menguraikan tulisan. Saya gagal!

Maafkan saya… Sungguh saya ingin menjadi bagian dari mereka yang bertahan dalam kechaosan. Saya ingin istiqomah membicarakan buku bukan sembarang kata-kata hampa makna. Saya berkomitmen mengamalkan firman pertama. Membaca samudera kalimat dari Rabb Pencipta pena dan tintaNya yang agung. Maka bukan atas nama kewajiban sekolah, kuliah, atau apapun, membaca menjadi separuh nafas saya agar tetap sadar dari arus melenakan di tengah kalap dan banjir bah informasi yang carut-marut.

Tertampar oleh tulisan https://beritagar.id/artikel/telatah/tetap-kerdil-setelah-71-tahun dan https://beritagar.id/artikel/telatah/kampanye-membaca-dengan-gong-dan-slogan

#ODOPfor99days

Amazing with Visual Creations

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *