Review Book

Lecutan Berkarya

Seringkali aku mengunggah sesuatu yang senang kubuat dan membutuhkan waktu sangat lama, tetapi tanggapannya hening. Aku kemudian mengunggah hal lain yang kupandang agak payah dan tidak memerlukan upaya sedikit pun dariku, tetapi nyatanya ia viral.”Austin Kleon dalam Buku Keep Going

Digital Doodle for Keep Going

Prolog

Ada yang menggelitik dari buku ini. Buku yang tanpa sengaja saya ambil begitu saja ke kasir tanpa baca sinopsisnya. Alasannya 2, pertama saya familiar dengan gaya tulisan Austin Kleon dari Steal Like an Artist dan Show Your Work. Kedua, saya butuh gagasan baru agar punya bahan ulik selama liburan.

Setelah Baca Buku Ini

Rasanya banyak hal yang sekiranya bisa jadi tamparan keras buat diri sendiri. Hei berkarya itu ternyata sederhana, yang bikin rumit adalah standar orang lain, ekspektasi diri, dan indikator palsu.

Dalam dunia yang serba transparan dan penuh notifikasi ini, ada kalanya kita perlu waktu hening membangun kesadaran diri. Bukan saja soal ruang yang tenang memang, tapi ada waktu bagi kita rileks merancang hari.

Kutipan dari “Keep Going” ini juga pas untuk diri yang kerap galau dengan penerimaan orang. Aku tuh yah udah bikin karya itu panjang prosesnya. Sulit rumit menguras tenaga. Eh pas udah dipublis taunya ditanggap B aja. Nggak gebyar dan nggak dapet aplaus. Nah pas unggah yang remeh aja macam selfie langsung deh banyak yang like. Duuuuh… Ini bakal gawat kalau jadi membelokkan indikator berkarya. Sama aja dengan isme yang penting bikin gebyar meski ambyar.

Buku ini sebenarnya bikin pembaca sadar dengan dualisme momen hidup. Ada yang momen bikin kita enjoy bahkan ada saat terpuruk namun kita harus terus melakukan sesuatu. Penting ternyata untuk memulai waktu dengan waras menuliskan apa yang akan dituntaskan hari itu. Tersindir sangaaat ketika Austin Kleon menuliskan, “Aku terbangun dan mengecek berita di ponselku.” Ini mah aku banget kalau lihat HP pas bangun dan langsung cek notif dari beberapa aplikasi. Argh… Hasilnya ada kalanya terintimidasi postingan orang. 😢

Kalau mau kreatif dan merasa harus meninggalkan rutinitas harian, kamu tuuh keliru gaes. 😣 Kreatif itu bukan tujuan tapi sarana biar tetap waras berkarya hari ke hari. Misalnya ini mah suka melukis terus nggak ngelakuin hal lainnya. Anak dibiarin nangis, kerjaan di kantor numpuk, pasangan ngerasa dicuekin. Berkarya memang lahir dari kegetiran diri tetap bertanggungjawab pada orang-orang di sekitar. Senangnya kalau lihat anak-anak yang tak gentar mencoba meski jatuh berkali-kali saat bermain. Banyak bertanya tentang hal menarik di dunia.

Belajar dari putri kecil saya yang beranjak 5 tahun. Hari ini dia keukeuh ingin coba sepatu roda milik sepupunya. Bundanya yang asing dengan benda satu ini memilih mundur karena tak bisa mengajari. Alhasil dia minta bantuan ayahnya untuk dipegangi dan berlatih jalan selangkah demi selangkah. Sesekali dia pegang pinggiran kursi dan jatuh menggelosor karena sepatu yang licin. Begitu ditawari untuk lepas sepatu roda, dia geming. Dunia baru baginya untuk mencoba sesuatu dimulai kembali.

Jadi mau sampai kapan dikepung kegelisahan saat berkarya. Butuh keahlian bagi kita untuk melambatkan laju sambil terus maju. Menelisik apa yang perlu dibenahi dan dibiarkan bebas.

Amazing with Visual Creations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *