Bunda Cekatan IIP

Jurnal #5 : Bahagia Berbagi di Camping Ground

Bismillah.

Alhamdulillah pengalaman pekan ini luar biasa meninggalkan kesan. Tentang membangun hubungan, memilih pesan yang tepat untuk disampaikan, dan menyerap energi belajar dari teman-teman baru di luar keluarga dan non-regional Bandung. Yups, camping ground menjadi momen refresh sejenak. Bu Septi begitu amazing-nya memberikan tantangan yang pas dengan analogi yang membumi. Untuk tipikal visual seperti saya, dengan visualisasi jurnal berlatar perkemahan, saya kemudian membayangkan para Bunda Cekatan tengah menggelar tikar dan saling mengobrol hangat tentang medan juang masing-masing. Oh ini rasanya punya teman baru. Memperluas sudut pandang dan menumbuhkan kepedulian.

Cara Mengakses Teman Baru

Alhamdulillah banyak cara memang untuk punya teman baru. Ada yang langsung mengirim DM (Direct Message) dengan sapaan hangat, ada juga yang langsung kirim form tanpa basa-basi terlebih dahulu. Semua orang memang punya cara masing-masing. Saya lebih memilih menjapri dengan step by step membangun keakraban dengan saling memberikan feedback. Rasanya seperti langsung mengaplikasikan hubungan interpersonal. Bagaimana bisa menyampaikan dimensi isi pesan yang bisa menguatkan hubungan, bukan sekadar mengirim kata-kata sekadar formalitas.

Ternyata beberapa teman ada pula yang menjapri saya dengan prolog ketertarikan dengan doodle. Waw, seperti jadi energizer tersendiri dalam berkarya. Bahkan ada yang heran juga mengapa saya tidak ada dalam keluarga “Seni” atau “Desain” dengan habit doodling. Doodle memang cara saya menyampaikan pesan secara visual, namun memang tidak masuk mindmap utama, karena ada topik urgen lain yang harus saya kuasai perihal membangun family bonding.

Apa Kelas Favoritmu?

Kelas favorit saya masih stand by di kelas K3B yakni Kami Keluarga Komunikasi Bahagia. Betapa banyak asupan bergizi untuk meng-upgrade kemampuan berkomunikasi berbagai dimensi. Mulai dari komunikasi dengan pasangan, komunikasi visual menarik dengan anak, sampai komunikasi lintas usia yang akan diperdalam pekan selanjutnya.

Belajar Komunikasi sebenarnya membuat saya ‘menampar’ diri sendiri. 😓 Ini menjadi perjuangan panjang tanpa henti untuk terus digali dalam aplikasi. Maklum saja, sebagai lulusan ilmu komunikasi 8 tahun silam membuat saya heran sendiri, eh ternyata mata kuliah komunikasi yang saya pelajari kala itu baru sebatas pergumulan teori. Langsung membuat diri otomatis komunikatif? Ternyata tidak. Perjuangan dimulai ketika baru memiliki anak dan suami. Teori komunikasi A,B,C, dll betapa rumitnya ketika dibenturkan dengan kondisi riil yang tak sesuai ekspektasi.

Maka ketika saya memilih komunikasi sebagai makanan prioritas untuk segera dicerna, strong why terbesar saya adalah membumikan teori yang pernah saya pelajari untuk diuji dalam hari ke hari. Kadang selalu ada misskom yang terjadi karena kita bergumul dengan komunikasi intrapersonal yang belum selesai. Sibuk dengan pikiran yang kusut, berprasangka atau terlalu banyak berharap. Ah ada saja yang harus dibenahi dalam berinteraksi. Langkah ini pun sebagai upaya meremedialkan diri dengan komunikasi produktif saat Bunsay untuk menguatkan family bonding.

Dalam satu pekan ini ada 27 teman baru yang bisa memberikan banyak pandangan tentang zona belajar mereka. Berikut infografisnya.

Camping Ground Institut Ibu Profesional

Cerita yang saya dengar dari teman-teman baru ini memang begitu beragam karena variasi keluarga favorit dan strong why-nya. Namun ada yang begitu menempel kuat dalam benak seperti pernyataan hangat berikut ini :

Dari Mbak Adisty Ayuningtyas yang punya kelas favorit Manajemen Emosi.

Alhamdulillah di manajemen emosi ada grup tentang innerchild dan di dalamnya ada psikolog. Jadi bisa sekalian curhat dan minta solusi berupa terapi yang bisa dilakukan di rumah. Ada banyak self healing yang bisa dilakukan. Tapi awalnya kita perlu tau dulu pemicunya apa, trus kita harus bisa memaafkan, dan menerima kejadian di masa lalu yang mungkin menimbulkan luka. Jadi ini di awal lagi diminta buat lifeline peristiwa-peristiwa penting dalam hidup untuk identifikasi kira-kira apa sih pemicu innerchildnya terluka.”

Dari Mbak Ria Arianty yang juga favorit Manajemen Emosi.

“Di managemen emosi sebetulnya karena ga nemu keluarga yang pas jadi cari yang mendekati. Dan didalamnya saya masuk lagi di kelompok kecil utk emosi lainnya. Alhamdulillah bs belajar mindfulness sesuai sub sub topik di mind map.
Dan sangat membantu saya untuk memanage energi yang jadi topik utama belajar saya saat ini karena saya dapat alarm dari anak waktu bermain untuk dia berkurang efek kondisi tubuh saya yang mulai mudah lelah. Dan ini sebagai modal saya untuk bisa jalani aktivitas yang bikin saya bahagia tanpa hambatan seperti kelelahan itu. Alhamdulillah sudah mulai merasakan efek positifnya. Saya senang karena saya diberi amanah membersamai teman-teman di kelompok kecil. Jadi bisa skalian praktek memanagement kelompok dengan mindfulnes
s.”

Dari Mbak Rati Rahmawati tentang kelas favorit Design.

Saya senang belajar mbak, tapi kadang suka lupa krn tdk menyempatkan waktu mencatat ilmu yang sdh dipelajari. Setelah lihat doodle literasi mbak wilda dan emakĀ² doodle lainnya, saya tertarik mbak. Sptnya ini bs menjadi solusi buat saya yang visual. Mengikat ilmu lewat tulisan dan doodle. Karena itu keliling keluarga mencari santapan doodle dan menikmati potluck tentang doodle mbak.. Semoga saya juga bisa mengamalkan ilmu yang sudah diikat lewat doodle literasi yang sedang saya pelajari yaa mbak.. aamiin”

Dari Mbak Wafy Ahdiyah tentang kelas favorit Manajemen Waktu.

Saya pilih manajemen waktu karena lagi kerasa banget pegang anak 3 di rumah sering sumbu pendek.. dan, agaknya saya ricek salah satu sumbernya pengaturan waktu yg acak adul. Di keluarga manajemen waktu, ada beberapa bahasan menarik, akhirnya saya gabung keluarga kecil yang lebih spesifik bahas Bullet Journaling.

Dari Mbak Nurul tentang kelas favorit Manajemen Waktu.

“Kelas favorit saya adalah Uluwatu karena kelas ini yang pertama saya kunjungi sesuai dengan mindmap saya yaitu Manajemen Waktu ⏰
📝 Materinya padat dan komplit. Selain itu, ternyata manajemen waktu ada korelasinya dengan manajemen energi. Bahas manajemen energi, ada sub topik high energy & lost energy kan ya.. Nah mengidentifikasi kedua hal tersebut bukan hanya sebatas jenis aktivitas apa saja yang menjadi penyebabnya, tetapi kita juga perlu tahu kapan energi pas tinggi atau turun. Ini artinya masuk ranah manajemen waktu juga.”

Dari Mbak Renna Nurul Ummah tentang kelas favorit parenting.

“Sesuai dengan “kehausan dan kelaparan” saya, secara pribadi saya haus sekali dgn ilmu2 parenting. Setelah diskusi dengan suami, parenting juga jadi prioritas utama (jadi kalau ada kesempatan untuk dapat ilmunya, harus berusaha untuk ‘dilahap’). Merasa butuh banyak belajar untuk menjadi orang tua yg bisa diteladani oleh anak.”
*walaupun anaknya belum ada hihi ^_^

Dari Mbak Dewi Fitriana tentang kelas favorit Public Speaking.

“Favoritku public speaking (PS) Mba, mind map ku juga sebenernya kan tentang berkomunitas dan read aloud sama anak, jadi sharing di keluarga PS ini nolong banget buat aku yang kepengen terjun aktif di komunitas. Dasarnya ku seneng ngomong juga, tapi kadang malu-malu bahkan ngeblank kalau ngomong depan orang, makanya sekarang belajar ngomong dulu di kelas PS hehehe. Kita sampai bikin FB Group, namanya Getar suara, khusus untuk latihan live karena memang nggak semua orang bisa live di FBG Institut kaann.. Dan karena kita lagi belajar public speaking, jadi sekalian aja belajar ngomong via Live FB untuk sharing ilmu dan pengalaman masing-masing.”

Dari Mbak Lintang Gumilang tentang kelas favorit Manajemen Waktu

“Saya lagi lagi nongkrong di manajemen waktu dan masih betah. Sempet melipir ke manaemen emosi tapi masih meraba-raba. Favorit saya masih manajemen waktu. Kenapa berbinar? Ya karena saya jadi bisa menentukan skala prioritas sesuai ranah domestik yang saya tekuni. Menentukan kandang waktu, cut off time dan tetep produktif sebagai ibu, istri, dan perempuan. Di manajemen waktu saya mengambil kelas grup kecil manajemen waktu dalam Islam. Saya belajar tetap produktif di malam hari dengan mendahulukan hak-hak Allah tapi tetap menjaga kualitas tidur.”

Diagram Pie Kelas Favorit

Dari sekian banyak kelas favorit keluarga Bunda Cekatan, kelas yang mendominasi dari teman baru saya adalah kelas manajemen waktu dengan persentase 35 % (8 orang) dan disusul dengan manajemen emosi sebanyak 27 % (7 orang). Luar biasa meski hanya 26 teman baru, kini saya belajar soal pilihan teman-teman dalam strong why masing-masing. Kami memang sama-sama berjuang dengan PR keluarga yang berbeda. Namun masih dalam satu ruh yang sama yaitu menemukan binar bahagia dalam keluarga dengan cara yang istimewa.

Hikmah yang Bisa Diserap

  1. Ternyata nggak enak juga jika hanya sekadar jawab pake form seadanya, terus pas ditanya, “Wah mbak udah pakai template form isian jawaban.” Jawabnya memang to the point. Biar nggak pake cape ngetik, haha. Nah kalau punya teman kayak gini memang jadinya agak sulit memperpanjang komunikasi. Karena irit jawaban bahkan minim emoticon ekspresif.
  2. Hubungan interpersonal semakin menguat jika kita bisa memberikan feedback secara bertahap sesuai urutan pesan yang diterima.
  3. Memiliki teman yang berbeda interest dengan kita lambat-laun menumbuhkan empati dan memperluas sudut pandang. Bukan hanya kita saja yang tengah berjuang. Bahkan saya salut sekali dengan teman yang berupaya belajar parenting meski belum dikarunia anak. Kagum dengan momentum membekali diri dengan ilmu.

Demikian jurnal kelima ini saya uraikan. Ah ini sudah mendebarkan setiap detil prosesnya. Banyak kejutan tak terduga dari pekan ke pekan berikutnya. Bismillah semoga bisa terus istiqomah belajar dan kuat sampai menjadi kupu-kupu cantik.

Amazing with Visual Creations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *