Bunda Cekatan IIP,  IP Bandung

Jurnal #2 Buncek : Telur Keterampilan

Bismillah.

Memasuki pekan kedua Bunda Cekatan Batch#1 ini, membuat saya berpikir berkali-kali. Bahkan harus sampai mendengarkan video Bu Septi 2 kali. Mencerna begitu lama kemudian mulai menggoreskan apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini. Kebutuhan mengasah potensi. Mengenal dan mendalami juga “Metakognisi” dari materi yang dibawakan Mas Pandu. Bukan sekadar melakukan seremoni atau selebrasi sesaat. Sungguh, Bunda Cekatan ini mengajak saya banyak meneropong lebih dekat mana yang benar-benar buat berbinar, di antara banyak hal yang gebyar.

Maka inilah matriks waktu kuadran aktivitas saya sebagai ibu yang juga berperan di ranah publik (sekolah).

Ternyata memetakan kuadran aktivitas ini lebih rumit dibanding aktivitas suka dan bisa. Karena skala prioritas menjadi tolak ukur utama. Seberapa mendesak dan seberapa penting memang sangat efektif untuk menjalani keseharian. Reminder biar hidup jauh dari istilah gabut. Istilah jaman anak sekarang kalau mereka kurang kerjaan atau aktivitas unfaedah.

Penting-Tidak Mendesak

  • Bagi saya yang 7-7nya ada di sekolah sebagai guru full day school, tentu saja menyusun RPP dan perangkat belajar jadi hal yang penting. Tidak mendesak karena aktivitas satu ini biasanya dirapel di awal tahun ajaran. Sungguh, meski tidak mendesak akan jadi sesuatu yang hectic kalau dinanti-nanti.
  • Jalan-jalan keluarga itu penting untuk membuat kebersamaan kami kian terasa dalam eksplorasi momen. Tapi tak mendesak karena selalu ada alasan untuk menunggu waktu yang tepat. Misalnya saat liburan semester atau hari libur nasional.
  • Bersih-bersih file ini terasa bagi saya yang punya space hardisk kosong kian terbatas. Maklum saja setiap ajaran baru, banyak tugas anak yang cukup menyita kapasitas.
  • Print buku jejak rekam Bunsay dan tulisan blog pribadi. Untuk reminder diri yang mudah diakses dan dibaca.

Tidak Penting-Mendesak

  • Domestik Rumah alias beberes. Ups… saking tidak pentingnya kadang terlewatkan padahal butuh cepat dikerjakan. Seperti cuci piring, mengepel rumah, dan lainnya.
  • Setrika lipat baju. Sungguh ini paling menguras keringat dan menghabiskan waktu berjam-jam dengan keranjang baju lebih dari 1.
  • Cek pesan Whatsapp atau menjawab telepon.
  • Masak untuk anak dan suami. Ini seringnya pas libur Sabtu-Ahad kalau masak. Seringnya tiap hari beli sarapan di luar.

Tidak Penting-Tidak Mendesak

  • Tidur-tiduran sambil pegang HP karena mager
  • Kelamaan mantengin aplikasi Karaoke online di HP
  • Kelamaan window shopping dan belanja yang belum tentu dibutuhkan
  • Berselancar tanpa tujuan di sosial media
  • Jajan di aplikasi online hanya kenyang menuruti selera perut

Aktivitas Penting-Mendesak yang saya diturunkan menjadi telur-telur merah keterampilan, yaitu:

  1. Manajemen Energi. Saya mesti lebih cermat mengelola energi yang dimiliki. Yup, rutinitas padat di sekolah sungguh menguras tenaga dan hanya tersisa energi seadanya sesampainya di rumah.
  2. Web Content Creator, ini menjadi resolusi baru setelah 10 tahun punya blog pribadi dan mencoba hosting di domain sendiri. Tentunya banyak hal yang harus dipelajari soal mengelola website.
  3. Family Time Berkualitas. Kami bertiga (saya, suami, anak) kerapkali hanya melalui hari-hari tanpa merekat kebersamaan. Rutinitas antar-jemput jadi sesuatu yang melelahkan karena tak ada kejutan, cerita, atau main sejenak. Saya ingin waktu bersama keluarga lebih bermakna dalam jeda peran dari ranah publik.
  4. Weekend Bahagia dengan Karya. Ini jadi tantangan memetakan kembali apa yang menjadi karya spesifik tiap pekannya. Bisa berupa goresan doodle, video sederhana, menjahit baju, atau desain cetak untuk keluarga.
  5. Berliterasi lewat Baca Tulis. Nampak sederhana namun menantang prosesnya. Sebagai ibu, saya sadar betapa banyak ilmu yang harus digali terutama pendidikan anak yang sesuai fitrahNya. Kemudian upgrade diri dalam bidang mata pelajaran yang diampu di sekolah.

Bismillah. Semoga Allah mudahkan proses mengasah keterampilan diri untuk mewujudkan bahagia bersama keluarga.

Amazing with Visual Creations

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *